Berjilbab Hanya Budaya Berpakaiankah?

Penulis : Muh Subli Ramadhan on Minggu, 30 Juni 2013 | 21.17

Minggu, 30 Juni 2013




يا أيها النبي قل لأزواجك وبناتك ونساء المؤمنين يدنين عليهن من جلابيبهن ذلك أدنى أن يعرفن فلا يؤذين وكان الله غفورا رحيما






Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang. (QS. 33:59)

Ada baiknya kita mengetahui asbab al-nuzul
komentar | | Read More...

Islam Agama Penutup

Pertanyaan ini muncul akibat dari ketidaktahuan dan keterbelakangan yang tampak menonjol dalam kehidupan masyarakat Islam secara umum akhir-akhir ini. Yang pasti, keterpurukan budaya dan politik telah mengakibatkan ummat Islam kehilangan kemampuannya untuk memimpin dirinya sendiri. Kalau keadaan individu saja sudah seperti itu, bagaimana mungkin ummat Islam dapat memimpin dunia? Atau bagaimana mungkin ummat Islam dapat memberikan gambaran ideal bahwa ummat Islam
komentar | | Read More...

Dzikir dan Doa Memasuki Bulan Baru dan Bulan Ramadhan

DZIKIR & DOA
Memasuki bulan baru dan bulan Ramadhan

1. Hadits dari Thalhah bin Ubaydillah ra. bahwasanya Nabi SAW jika melihat hilal, seraya ia berdoa:

اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْيُمْنِ وَالْإِيمَانِ وَالسَّلَامَةِ وَالْإِسْلَامِ رَبِّي وَرَبُّكَ اللَّهُ

"ALLAAHUMMA AHLILHU 'ALAINAA BILYUMNI WAL AIMAANI WAS SALAAMATI WAL ISLAAM, RABBII WA RABBUKALLAAH" (Terbitkanlah bulan tersebut kepada kami dengan berkah, iman, keselamatan serta Islam! Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah).
[HR. Ahmad dan al-Turmudzi]
komentar | | Read More...

Adab Atau Aturan Dalam Berdiskusi Berdasarkan Al Qur'an dan Hadits Rasulullah SAW

Berikut beberapa adab dalam berdiskusi :

1. Ucapan Bermanfaat
Dalam kamus seorang Muslim, hanya ada dua pilihan ketika hendak bercakap dengan orang lain. Mengucapkan sesuatu yang baik atau memilih diam. Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam (SAW) bersabda, “Barang siapa mengaku beriman kepada Allah dan hari Pembalasan hendaknya ia berkata yang baik atau memilih diam.” (Riwayat al-Bukhari).

2. Bernilai Sedekah
“Setiap tulang itu memiliki kewajiban
komentar | | Read More...

Kisah Ashabul Uhdud

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam berkisah:

"Dahulu kala, ada seorang raja yang memiliki tukang sihir, saat si tukang sihir sudah tua, ia berkata kepada rajanya: 'Aku sudah tua, kirimlah seorang pemuda kepadaku untuk aku ajari sihir.' Lalu seorang pemuda datang padanya, ia mengajarkan sihir kepada pemuda itu. (Jarak) antara tukang sihir dan si raja terdapat seorang rahib. Si pemuda itu mendatangi rahib dan mendengar kata-katanya, ia kagum akan kata-kata si rahib itu sehingga bila datang ke
komentar | | Read More...

Siapakah Yang Menyuruhmu Berhijab

Penulis : Muh Subli Ramadhan on Jumat, 21 Juni 2013 | 06.25

Jumat, 21 Juni 2013


Assalamualaikumwarahmatullahiwabrakatuh
Untukmu ukhti muslimah…
komentar | | Read More...

Hikmah Puasa Terhadap Kesehatan Manusia

Penulis : Muh Subli Ramadhan on Senin, 17 Juni 2013 | 22.52

Senin, 17 Juni 2013

Berbagai penelitian telah mengungkap adanya hikmah puasa ditinjau dari perpekstif medis modern. Dalam penelitian ilmiah, tidak ditemukan efek merugikan
komentar | | Read More...

4 Golongan Lelaki Yang Akan Diseret Ke Neraka Oleh Wanita


Di akhirat nanti ada 4 golongan lelaki yang akan ditarik masuk ke neraka oleh wanita. Lelaki itu adalah mereka yangg tidak memberikan hak kepada wanita dan tidak menjaga amanah itu.

Mereka ialah:1. AyahnyaApabila seseorang yang bergelar ayah tidak mempedulikan anak-anak perempuannya di dunia. Dia tidak memberikan segala keperluan agama seperti mengajar solat, mengaji dan sebagainya. Dia membiarkan anak-anak perempuannya tidak menutup aurat. Tidak cukup kalau dengan hanya memberi kemewahan dunia saja. Maka dia akan ditarik ke neraka oleh anaknya.Wahai lelaki
komentar | | Read More...

Syukur

Cipt.Daniati Rahmah
 
Deras hujan yang baru saja berlalu
Menyisakan semerbak bau tanah
Membuat kuteringat dimana jasadku nanti
Saat jiwaku pergi kembali pada Mu
Allah, perjuangan ini masih panjang
Meski kadang ujian datang menghadang
Kutemukan nikmatMu
Kudapatkan hikmah Mu
Namun seringkali aku memungkirinya
Reff :Jadikan aku hamba yang pandai bersyukur
Yang dapat memaknai sgala yang pernah
Kau beriJauhkan aku dari siksa neraka-Mu
Dekatkan aku pada nikmat surga-Mu
komentar | | Read More...

Renungan Kader

Cipt. Ahmad Aris Muryasani

Seusai tahajjud kumerenung lagi
Siapa dimana diri hina ini
Lama ku tertidur dalam duniaku
Nanarku memandang alan disekelilingku

Beribu Mujahid berguguran sudah
Beribupun Nampak semakin merenta
Namun kebathilan tiada kunjung sirna
Bahkan semakin menyesakkan Dunia

Kini tiba waktu tuk tampilkan diri
Gelisah Ummatku tak sabar menanti
Dalam Ikatanku tlah bersemi janji
Hidup di jalan Nya atau mati Syahid
komentar | | Read More...

Mari Mengaji

Cipt. Juniardi Firdaus/Hepia Restu

Bocah-bocah kecil berjalan
Kitab Suci di dadanya
Dengan senyum yang tulis oh boca kecil
Kini mereka gembira
Dan bernyayi riang ria
Memuji pada Nya
Dengan hati yang damai Mari kita mengaji
Tuntut ilmu Islami
Mengapai cita-cita
Untuk bekal nanti
Mari kita mengaji
Tuntut ilmu Silami
Agar kita bahagia
Selama-lamanya
komentar | | Read More...

Sujud

Lirik: Thoif
Art: Juniardi Firdaus & Fadilah a.z

Di keheningan malam
Kubersujud dihadapanmu oh Tuhan
Ku memohon petunjukMu
Dalam hidupku yang fana ini
Dunia yang penuh liku
Banyak menggoda ke jalan kealfaan
Ku alfa padaMu
Khilafkan dosaku ikuti kemana angin pergi
kepadaMu kuserahkan diri
kepangkuanMu ku berharap ampunan
semoga doaku sampai padaMu
hingga segala dosaku kan hilang
komentar | | Read More...

Senandung Perjuangan

Cipt. Baskoro Tri Caroko

Bangunlah hai kamu para kader semua
Dari lelapmu tentang mimpi-mimpi
Lihatlah sang fajar telah menyinsing
Singsingkan lengan, satukan langkah
Teguhkan Jihad Fisabilillah
Bersama kita tegakkan
Keadilan…… Kebenaran
Ikatan Pelajar Muhammadiyah
Tuhan beri petunjuk-Mu
Jalan kemenagan ummat Islam
Berilah kami kekuatan
Amalkan Al Qur’an dalam kehidupan
komentar | | Read More...

Janji Kader

Cipt. M. Izzul Muslimin

Di kala akhir Taruna Melati
Ada tanya yang menyentuh dalam hati
Sudah siapkah aku kini
Menjadi kader yang sejati
Telah banyak yang aku dapatkan
Tentang arti hidup dan perjuangan
Fisabilillah ditegakkan
Lewat hati, kata, dan perbuatan
Kumohon kekuatan ya Allah
Agar dapat ku jalankan
Amanah ummat dan ikatan
Demi agama Islam
Kini tiba saat diwujudkan apa yang telah diberikan
Semoga Allah meridho’i niat hati yang tulus ini.
komentar | | Read More...

Aku Cinta IPM

Cipt. Baskoro Tri Caroko

Demi pena dan sgala dituliskan
Qur’an surat Al Qalam ayat Satu
Itulah semboyan kita semua
Dalam Jihad tegakkan kalimat Nya
IPM aku suka kamu
IPM aku senang kamu
IPM aku saying kamu
Pokoknya ku cinta padamu
Senandung Ukhuwah
Berjumpa kita seminggu yang lalu
Dan kini kita kan berpisah lagi
Setelah bersama kita jalani
Ditempa dalam Taruna Melati
Bersama kita satukan langkak
Berpegang teguh amanah ummat
Berjuang kita dijalan Allah
Berkarya dan beramal nyata
komentar | | Read More...

Mars IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah)

Lagu : Mursjid
Syair : M. Diponegoro

Ayolah Ayo-ayo….
Derap derukan langkah
Dan kibar geleparkan panji-panji
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
Sejarah Ummat Telah Menuntut Bukti

Ingatlah Ingat-Ingat….
Niat tlah di ikrarkan
Kitalah cendekiawan berpribadi
Susila cakap taqwa kepada Tuhan
Pewaris Tampuk Pimpinan ummat nanti

Reff:
Immawan dan Immawati
Siswa teladan Putra harapan
Penyambung Hidup generasi

Ummat Islam seribu zaman
Pendukung cita-cita luhur
Negri indah adil dan makmur
komentar | | Read More...

Mars Ikatan Pelajar Muhammadiyah

Bersatu berpadu menjalin ukhuwah
Di dalam ikatan pelajar muhammadiyah
Terampil berilmu berakhlaq mulia
 
Pelopor dan pelangsung penyempurna amanah
Berjuang dengan sekuat tenaga
Tegakkan islam yang utama
Menjadi kader yang siap sedia
Untuk umat dan bangsa
 
Berdiri tegaklah tampillah dimuka
Ikrarkan bersama IPM berjaya
komentar | | Read More...

Mars Muhammadiyah (Sang Surya)

Sang surya telah bersinar
Syahadat dua melingkar
Warna yang hijau berseri
Membuatku rela hati

Ya Allah Tuhan Robbiku
Muhammad junjunganku
Al Islam agamaku
Muhammadiyah gerakanku

Reff
Di Timur fajar cerah gemerlapan
Mengusir kabut hitam
Menggugah kaum muslimin
Tinggalkan peraduan

Lihatlah matahari telah tinggi
Diufuk Timur sana
Seruan Illahi Robbi
Sami’na waatho’na
komentar | | Read More...

Khutbah dan Doa Rasulullah SAW Ketika Menikahkan Puterinya

Penulis : Muh Subli Ramadhan on Minggu, 09 Juni 2013 | 21.26

Minggu, 09 Juni 2013

KHUTBAH DAN DOA NABI MUHAMMAD SAW KETIKA MENIKAHKAN PUTERINYA FATIMAH AZZAHRAH DENGAN ALI BIN ABI THALIB

بسم الله الرحمن الرحيم
komentar | | Read More...

Jumlah Hari Bulan Ramadhan di Masa Rasulullah

Penulis : Muh Subli Ramadhan on Rabu, 05 Juni 2013 | 21.33

Rabu, 05 Juni 2013

Berdasarkan informasi dari para shahabat bahwa mereka berpuasa bersama Rasulullah lebih sering 29 hari daripada 30 hari.

Hadits Siti Aisyah:

عن سعيد بن العاص قال: قِيلَ لِعَائِشَةَ يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ هَذَا الشَّهْرُ تِسْعٌ وَعِشْرُونَ قَالَتْ وَمَا يُعْجِبُكُمْ مِنْ ذَلِكَ لَمَا صُمْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تِسْعًا وَعِشْرِينَ أَكْثَرُ مِمَّا صُمْتُ ثَلَاثِينَ
Dari Said bin
komentar | | Read More...

Kayfiat dan Sifat Shalat Berdasarkan HPT (Himpunan Putusan Tarjih)


1. Setelah berdiri tegak menghadap qiblat, disertai niat yang ikhlash karena Allah sambil melafalkan “Allahu Akbar” seraya mengangkat kedua tangan searah dengan kedua bahu dengan mensejajarkan kedua ibu jari pada ujung daun telinga 

2. Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri menempel di dada , kemudian membaca do’a iftitah, “Allahumma ba`id bayni….. dst” 
3. Melafalkan Isti`adzah , dilanjutkan dengan membaca basmalah dan surat al-Fatihah , setelah selesai membaca al-Fatihah kemudian melafalkan “Aamiin” dilanjutkan membaca salah satu surat dari al-Quran 
4. Mengangkat kedua tangan seperti ketika takbir permulaan shalat seraya bertakbir dan membungkukan badan (ruku) dengan meratakan punggung dengan leher serta meletakan kedua telapak tangan secara terbuka pada kedua tempurung lutut dilanjutkan berdo’a, "Subhanakallahumma rabbana wa bihamdikalla-hummaghfirli" atau salah satu do’a dari Nabi yang lainnya .
5. I`tidal, yaitu mengangkat kepala diikuti dengan mengakat kedua belah tangan seperti ketika takbir permulaan seraya berdo’a, "Sami'allahu liman haidah" kemudian bila sudah tegak berdiri berdo'a: "Rabbana wa lakalhamd"
6. Sujud, yaitu berlutut seraya bertakbir untuk bersujud dengan menekukkan ujung jari-jari kaki dan meletakkan kedua tempurung lutut dan di atas lantai terlebih dahulu baru kemudian kedua telapak tangan dan kening beserta ujung hidung dengan menghadap kearah kiblat (termasuk ujung jari-jari kaki), sementara tangan dijauhkan dari lambung dengan sikut terangkat , kemudian berdo’a "Subhanakallahumma rabbana wa bihamdikallahummaghfirli" atau salah satu do’a dari Nabi yang lainnya. 
7. Mengangkat kepala dari sujud, dengan bertakbir dan duduk dengan tenang, seraya berdo'a: "Allahummaghfirli warhamni wajburni wahdini warzuqni "
8. Kemudian bersujud untuk yang kedua kalinya dengan bertakbir dan membaca "tasbih" seperti dalam sujud yang pertama. Kemudian angkatlah kepalamu dengan bertakbir dan duduklah sebentar , kemudian bangkit berdiri untuk raka'at yang kedua dengan menekankan (tangan) pada lantai seraya bertakbir (tanpa mengangkat kedua tangan). 
9. Raka`at kedua, gerakan (af`al) dan bacaannya (aqwal) sebagaimana pada rakaat pertama, hanya tidak membaca do’a iftitah dan setelah sujud yang kedua tidak langsung bangkit, tetapi duduk untuk ber-tasyahud. Jika shalatnya hanya 2 raka`at, maka duduknya dilakukan secara tawaruk untuk ber-tasyahud dan salam (tasyahud akhir), tetapi jika 3 atau 4 raka`at, maka duduknya dilakukan secara iftiras (tasyahud awwal).
10. Duduk Iftirasy/Tasyahhud awwal, yaitu duduk setelah selesai sujud yang kedua kali pada raka`at kedua dari shalat yang 3 atau 4 raka`at, dengan cara meletakan pantat di atas telapak kaki kiri yang dilipatkan sedangkan telapak kaki kanan ditegakkan. Sementara kedua tangan diletakan di atas kedua lutut; telapak/jari-jari tangan kiri menggenggam lutut sebelah kiri sedangkan telapak tangan kanan dikepalkan dengan melipatkan jari kelingking, jari manis dan jari tengah serta menunjukkan (mengangkat jari) telunjuk dan menyentuhkan ibu jari kepada jari tengah yang terlipat , seraya berdo’a: “attahiyatu lillah… dst” , kemudian membaca shalawat Ibrahimiyah , kemudian berdo’a sekehendak hatimu dengan do’a yang lebih pendek daripada do’a tasyahhud akhir . 
11. Rakaat ketiga; setelah selesai tasyahhud awwal bangkit berdiri, untuk rakaat yang ketiga, mengangkat kedua tangan (sebagaimana pada takbir permulaan) dan bertakbir . Gerakan dan bacaan pada rakaat ketiga sebagaimana pada raka`at kedua, hanya setelah membaca al-fatihah tidak membaca surat al-Qur’an langsung takbir untuk ruku`. Jika shalat yang 3 raka`at (maghrib), setelah sujud yang kedua langsung duduk tawarru` untuk ber-tasyahud akhir dan salam. Jika shalat yang 4 raka`at, setelah sujud, duduk sejenak lalu bangkit berdiri untuk raka`at keempat dengan menekankan tangan ke lantai dan bertakbir tanpa mengangkat kedua tangan.
12. Raka`at kempat setelah takbir, tangan langsung disimpan di dada, gerakan dan bacaan selanjutnya seperti pada raka`at ketiga. Setelah selesai dari sujud yang kedua, duduk secara tawaru` untuk ber-tasyahud akhir selanjutnya berdo’a: “attahiyatu lillah …”, shalawat Ibrahimiyah, dan berdo`a “Allahumma inni `audzu bika … Dst ” kemudian kemudian salam dengan menolehkan muka ke kanan lalu ke kiri. Adapun duduk tawaru` dilakukan dengan cara memajukan kaki kiri, menegakkan telapak kaki kanan dengan pantat langsung menempel ke lantai.
komentar | | Read More...

Tinjauan Hadits-Hadits Tentang Rukyatul Hialal, Istikmal dan Istiqdar

Hadits-hadits yang terkait dengan "cara" untuk mengetahui posisi bulan dan matahari dalam kaitannya dengan pelaksanaan ibadah shaum Ramadhan khususnya, dijelaskan dalam sejumlah periwayatan hadits yang beragam baik sanad maupun matannya, serta terkodifikasikan dalam beberapa kitab hadits primer (al-Mashadir al-ashliyah). 

Terdapat 13 Sanad hadits, sebagai berikut:

1.`Abdullah ibn 'Umar, r.a. dengan rawi-rawi: 

1.1 Malik ibn Anas (93-179); 
1.2 `Abd al-Razaq(126-211); 
1.3 Muhammad ibn Idris al-Syafi'I (150-204); 
1.4 Ahmad ibn Hanbal (164-267); 
1.5 Abu Bakr ibn Abi Syaybah (159-235); 
1.6 Abu Muhammad al-Darimi (181-255); 
1.7 Muhammad ibn Isma`il al-Bukhari (194-256); 
1.8 Abu Dawud al-Sijistani (202-275); 
1.9 Muslim ibn al-Hajaj (206-261); 
1.10 Muhammad ibn Yazid al-Qazwini, Ibn Majah (207-275); 
1.11 Abu Ya`la, Ahmad ibn Ali ibn al-Mutsanna (210-307); 
1.12 Ahmad ibn Syu`ayb al-Nasa'i (215-303); 
1.13 Muhammad ibn Ishaq ibn Khuzaymah (223-311); 
1.14 Muhammad ibn Hiban (w. 354); 
1.15 Ali ibn `Umar al-Daruquthni (306-385); 
1.16 Muhammad ibn `Abd Allah al-Hakim (321-405); dan
1.17 Ahmad ibn al-Husayn Abu Bakr al-Bayhaqi (384-358).

2.`Abdullah ibn `Abbas, r.a. dengan rawi-rawi : 

2.1 Malik ibn Anas (93-179); 
2.2 `Abd al-Razaq (126-211); 
2.3 Abu Dawud al-Thayalisi (w. 204); 
2.4 `Abd Allah ibn al-Zubayr al-Humyadi (W. 219); 
2.5 `Ali ibn al-Ja`d al-Baghdadi (134-230); 
2.6 Aòmad ibn Òanbal (164-267); 
2.7 `Abd Allah ibn `Abd al-Rahman al-Darimi (181-255); 
2.8 Al-Harits ibn Abi Utsamah (186-282); 
2.9 Abu Dawud al-Sijistani (202 – 275); 
2.10 Muslim ibn al-Òajaj al-Naysâbûrî (206-261); 
2.11 Abu Isa al-Turmudzi (209-279); 
2.12 Abu Ya`la Ahmad ibn Ali ibn al-Mutsanna (210-307); 
2.13 Ahmad ibn Syuayb al-Nasa'i (215-303); 
2.14 Muhammad ibn Ishaq ibn Khuzaymah (223-311); 
2.15 Muhammad ibn Hiban (w. 354); 
2.16 Sulayman ibn Ahmad Al-Thabrani (260-360); 
2.17 `Ali ibn `Umar al-Daruquthni (306-385); 
2.18 Muhammad ibn `Abd Allah al-Hakim (321-405); dan 
2.19 Ahmad ibn al-Husayn, Abu al-bakr al-Bayhaqi (384-458).

3. Abu Hurayrah, r.a. dengan rawi-rawi: 

3.1 `Abd al-Razaq (126-211); 
3.2 `Ali ibn al-Ja`d al-Baghdadi (134-230); 
3.3 Muhammad ibn Idris al-Syafi'I (150-204); 
3.4 Abu Dawud al-Thayalisi (w. 204); 
3.5 Ibnu Rahawayh, Ishaq ibn Ibrahim (161-238); 
3.6 Aòmad ibn Òanbal (164-267); 
3.7 Abu Bakr ibn Abi Syaybah (159-235); 
3.8 Abu Muhammad al-Darimi (181-255); 
3.9 Muhammad ibn Isma`il al-Bukhari (194-256); 
3.10 Muslim ibn al-Òajaj al-Naysâbûrî (206-261); 
3.11 Muhammad ibn Yazid al-Qazwini (207 – 275); 
3.12 Abu Isa al-Turmudzi (209-279); 
3.13 Abu Ya`la Ahmad ibn Ali ibn al-Mutsanna (210-307); 
3.14 `Abd Allah ibn `Ali ibn al-Jarud (w.307); 
3.15 Ahmad ibn Syuayb al-Nasa'i (215-303); 
3.16 Muhammad ibn Ishaq ibn Khuzaymah (223-311); 
3.17 Muhammad ibn Hiban (w. 354); 
3.18 Sulayman ibn Ahmad Al-Thabrani (260-360); 
3.19 `Ali ibn `Umar al-Daruquthni (306-385); dan 
3.20 Ahmad ibn al-Husayn, Abu al-bakr al-Bayhaqi (384-458).

4.`Aisyah r.a., dengan rawi-rawi: 

4.1 Abu Dawud al-Sijistani (202 – 275); 
4.2 Muhammad ibn Ishaq ibn Khuzaymah (223-311);
4.3 `Ali ibn `Umar al-Daruquthni (306-385); dan 
4.4 Ahmad ibn al-Husayn, Abu al-bakr al-Bayhaqi (384-458).

5. Huzhaifah r.a. dengan rawi-rawi:

5.1 Abu Dawud al-Sijistani (202 – 275);
5.2 Muhammad ibn Ishaq ibn Khuzaymah (223-311);
5.3 Muhammad ibn Hiban (w. 354); dan 
5.4 Ahmad ibn al-Husayn, Abu al-Bakr al-Bayhaqi (384-458).

6. Thalaq ibn `Ali, r.a. dengan rawi-rawi: 
6.1 Ahmad ibn Hanbal (164-267); 
6.2 Sulayman ibn Ahmad Al-Thabrani (260-360);
6.3 `Ali ibn `Umar al-Daruquthni (306-385); dan
6.4 Ahmad ibn al-Husayn, Abu al-Bakr al-Bayhaqi (384-458).

7. Jabir ibn `Abd Allah, r.a. dengan rawi: 
7.1 Abu Ya`la Ahmad ibn Ali ibn al-Mutsanna (210-307); dan 
7.2 Ahmad ibn al-Husayn, Abu al-bakr al-Bayhaqi (384-458)

8.`Umar ibn al-Khathab r.a. dengan rawi: 
Abu al-Bakr al-Bayhaqi (384-458)

9. Abu Sa`id al-Khudri, r.a. dengan rawi: 
Al-Rabi` ibn Habib ibn `Umar al-Azda.

10. Al-Hasan, r.a. dengan rawi: 
`Abd al-Razaq (126-211).

11. Abu Bakrah, r.a. dengan rawi: 
11.1 Abu Dawud al-Thayalisi (w. 204); 
11.2 Ahmad ibn Hanbal (164-267); dan 
11.3 Ahmad ibn al-Husayn, Abu al-bakr al-Bayhaqi (384-458).

12. Rafi ibn Khudayj r.a. dengan rawi: 
`Ali ibn `Umar al-Daruquthni (306-385).

13. Ash-hab Muhammad Rasulullah saw. dengan rawi-rawi: 
13. 1 Al-Harits ibn Abi Utsamah (186-282); dan 
13. 2 Ahmad ibn Syuayb al-Nasa'i (215-303)

Akan tetapi dari KETIGABELAS sanad tersebut, yang kerap kali dijadikan rujukan dalam masalah ini, hanyalah 3 Sanad, yakni : IBNU UMAR, IBNU `ABBAS dan ABU HURAYRAH.

dikutip dari status ustd Dadang Syaripudin
komentar | | Read More...

Matahari dan Bulan Sebagai Patokan Waktu Beribadah


Waktu pelaksanaan Shalat dilaksanakan berpatokan pada pergerakan semu matahari "terlihat" dari bumi, waktu pelaksanaan shalat hanya berbasis hari bukan tanggal (bulan). Sementara shaum dan haji, waktu pelaksanaannya berpatokan pada "matahari dan bulan" sekaligus. 


Untuk menentukan awal - akhir bulan Ramadhan, shaum bidh pada tanggal 13, 14 dan 15 setiap bulan, shaum `Arafah 9 Dzulhijjah, `Asyura 9/10 Muharram berbasis pada perhitungan tanggal/bulan, dan shaum Senin - Kamis dan shaum Dawud berbasis hari. Namun penentuan batas shaum "setiap harinya" berpatokan pada pergerakan semu matahari, mulai imsak berpatokan pada terbit fajar yang disamakan dengan waktu pelaksanaan shalat shubuh dan terbenam matahari yang disamakan dengan waktu pelaksanaan shalat Maghrib.



Demikian pula pelaksanaan ibadah haji, secara umum berpatokan pada penanggalan bulan terkhusus lagi untuk wukuf di `Arafah, tetapi untuk prosesi lainnya, seperti waktu utama melempar jamarat berpatokan pada matahari termasuk penentuan nafar awal atau nafar sani dan thawaf ifadhah dari mina berdasarkan pergerakan semu matahari. 



Di masa Rasululloh, Shahabat, Tabi`in sampai Imam-imam madzhab, semuanya hanya dapat diketahui melalui pengamatan mata (rukyat) secara langsung. Perhitungan astronomi (hisab falakiyah) sama sekali tidak digunakan, baik untuk mengetahu waktu-waktu shalat, shaum ataupun haji.



Dalam perkembangannya, untuk waktu-waktu pelaksanaan peribadatan yang berpatokan pada pergerakan semu matahari, seperti waktu-waktu shalat dan imsak serta buka puasa -- Belum diketahui sejak kapan dimulai -- sudah tidak lagi berdasarkan pada hasil "pengamatan langsung mata kepala pada pergerakan semu matahari", melainkan cukup dengan mengandalkan perhitungan astronomi (hisab falakiyah) yang sama sekali tidak pernah dilakukan baik di masa Rasulullah, Shahabat, Tabi`in bahkan Imam-imam madzhab. Kenyataan semacam ini, hampir-hampir tidak ada yang mempersoalkan sama sekali. Seakan-akan jadwal shalat yang menempel di dinding itu sudah ada semenjak masa Rasulullah SAW.



Lain bulan lain matahari, untuk waktu-waktu peribadatan yang berpatokan pada fase-fase peredaran bulan, terkhusus untuk memulai berpuasa Ramadhan (tidak dipersoalkan untuk puasa-puasa sunat) dan lebih-lebih untuk berlebaran, hasil perhitungan hisab falakiyah ini, belum diterima oleh semua kalangan. Anehnya lagi, bagi pihak yang belum menerima "berlebaran" berdasarkan hisab falakiyah ini, setiuap harinya -- selama 1 bulan lamanya -- mereka mulai batas imsak puasa dan berbuka dengan yakin menggunakan jadwal hasil hisab falakiyah tanpa keraguan sedikit pun. Mereka tidak lagi mengamati dengan mata kepalanya kapan fajar menyingsing di ufuk timur dan kapan matahari tenggelam di ufuk barat sebagai yang diperintahkan al-Quran dan al-Sunnah. Namun ketika mereka mau makan ketupat, berpakaian serba baru untuk berhari raya dan mudik pulang kampung, hisab dianggapnya ghayr masyru`atau bid`ah yang karenanya lebaran menjadi "tidak sah" jika tidak berdasarkan pengamatan langsung (rukyat) terhadap hilal. 



Jika hanya rukyatul hilal saja yang masyru untuk menentukan hari raya 1 Syawwal, tidak dengan hisab falakiyah, maka bagaimana nasib dari ibadah puasa sebulan sebelumnya yang berdasarkan hisab ???? Teramat rugi rasanya, jika yang sah itu hanya lebarannya yang berdasarkan rukyatul hilal, sementara ibadah puasa sebulan lamanya menjadi tidak sah karena imsak dan berbuka setiap harinya berdasarkan jadwal hasil hisab falakiyah atau bahkan berdasarkan pemantauan terhadap adzan yang dikumandangkan di pesawat telivisi atau radio. Uniknya lagi, jika mau buka mencari chanel TV dan radio yang lebih dulu mengumandangkan adzan, jika mau imsak berpatokan pada yang terakhir mengumandangkan adzan shubuh.



Muncul pertanyaan: "Apakah memang ada perbedaan petunjuk dan perintah dari Al-Quran dan al-Sunnahnya terkait dengan waktu-waktu pelaksanaan shalat, imsak dan buka puasa yang berpatokan pada pergerakan semu matahari dan penentuan 1 Ramadhan dan 1 Syawwal yang berpatokan pada peredaran bulan?" Sehingga yang satu boleh dan sah untuk di hisab, yang lain menjadi tidak boleh dan tidak sah jika dihisab!

Dikutip dari status Ustd Dadang Syaripudin
komentar | | Read More...

Jadwal Shalat

Muhammadiyah

'Aisyiah

Pemuda Muhammadiyah

Ikatan Pelajar Muhammadiyah

Tapak Suci

Hizbul Wathan

Majalah Tabligh

Suara Muhammadiyah

Fatwa Tarjih

 
Copyleft © 2014 | Muhammadiyah Bali Post | Powered By Allah